Netizen Pangandaran di Hebohkan Dengan Berita Pencubitan Seorang Murid Oleh Gurunya



Netizen Pangandaran di Hebohkan Dengan Berita Pencubitan Seorang Murid Oleh Gurunya - terutama para netizen yang berasal dari kalangan Guru atau yang berprofesi sebagai seorang Guru, ada banyak para netizen yang berasal dari Pangandaran share foto terkait pemberitaan seorang Guru yang dilaporkan oleh muridnya sendiri ke Komnas Perlindungan Anak  akibat dia melakukan pencubitan terhadap anak didiknya tersebut.

Baca juga : Ucapkan Kata "Sundala" Seorang Siswa di Makassar Langsung di Tampar Gurunya
 
Tentunya kita harus bijaksana dalam menyikapi setiap berita yang bertebaran di Internet, kita tentunya tidak boleh mudah terpengaruh atau mudah terhasud dengan pemberitaan – pemberitaan yang kita sendiri belum tahu secara pasti seperti apa duduk permasalahannya. Jangan sampai kita jadi orang yang hanya memojokan salah satu pihak yang berada dalam permasalahan diatas, sebagai pembaca yang baik dan penyebar berita tentunya kita harus lebih bijak lagi dalam menyikapi setiap berita yang kita share atau kita baca di media sosial.


Bila kita perhatikan memang ada dua pihak yang pro dan kontra terkait masalah pencubitan seorang  murid oleh gurunya yang kini harus berkahir di meja hijau. Sebagai seorang guru memang kita memiliki kewajiban untuk mendidik para murid agar menjadi seorang murid yang disiplin dan berprestasi, tapi apakah itu harus dengan cara melakukan tindakan yang berhubungan dengan fisik, seperti misalnya memukul, menampar atau mencubit ?

Saya sendiri adalah seorang belajar, Saya mengenal banyak Guru, diantara mereka memang ada yang bersikap sedikit arogan seperti melakukan tindakan/ hal – hal yang berhubungan dengan fisik, perilaku mereka memang membuat para murid jadi takut tapi itu sama sekali tidak membuat sang guru  jaddi  disegani atau dihormati oleh para murid – muridnya, para guru dengan sikap arogan itu justru menjadi bahan perguncingan dan lelucon  murid – muridnya.

Tapi disisi lain juga Saya menemukan ada beberapa Guru yang sukses mengendalikan para muridnya, tanpa harus bersikap arogan dan melakukan tindakan kekerasan yang berhubungan dengan fisik, mereka justru sangat pandai dalam menguasai dan mensiasati beberapa muridnya yang dianggap bandel, seorang Guru memang sudah seharusnya bisa bersikap sebagai seorang patner ataupun teman yang bisa membuat para murid merasa nyaman dan aman bersamanya, bukan hanya sebagai seorang guru yang mengajar karena dibayar, mereka juga harus bersikap sebagai seorang profesional yang mengemban tugas untuk mewujudkan cita – cita yang tertulis dalam UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bila kita merujuk ke pendidikan dalam dunia Islam, khusnya orang tua dalam mendidik anaknya,  ada sebuah aturan dimana ketika anak sudah berumur 7 tahun tapi dia tidak mau mengerjakan shalat, maka dia wajib untuk di pukul dengan aturan serta tidak memukulnya secara berlebihan, tujuan pemukulan tersebut agar si anak jadi takut dan mau mengerjakan shalat, awalnya mungkin dia takut karena pukulan tapi lama – kelamaan dia akan terbiasa denga Shalat tanpa harus dibayng bayangi dengan pukulan. Kalau para Guru merujuk ke arah sini tentunya mereka akan menganggap pukulan yang mereka lakukan untuk muridnya yang bandel adalah sah – sah saja.

Tapi kita tahu sendiri bahwa negara ini merupakan negara yang penuh aturan, ada Komnas HAM, ada Komans Perlindungn Perempuan, Komans Perlindungan anak dan lain – lain. Kita mungkin bisa saja menjadi orang yang ‘kontra’  karena merasa pencubitan seorang Guru terhadap muridnya bukanlah sebuah masalah yang besar, karena itu semua dilakukan atas nama rasa sayang terhadap murid tersebut dan tidak perlu sampai harus dibawa ke meja hijau, dan kalau lah kita menjadi seorang yang kontra maka yang perlu kita lakukan adalah merubah pertauran yang ada, misal bahwa Guru boleh memukul muridnya jika muridnya bandel. Jadi mungkin sistem pendidikan dan peraturan yang ada juga perlu diperbaiki dan dimusywarahkan kembali, jangan sampai masalah seperti ini terluang kembali dan menimbulkan pro dan kontra dalam lingkungan pendidikan.

Semoga saja masalah ini tidak terulang lagi, kita yang merasa sebagai seorang Guru sudah selayaknya memiliki rasa sabar yang tinggi dalan mendidik para muridnya, dan kita juga sudah tahu sendiri bahwa jika kita tidak bisa mengendalikan emosi dan akhirnya melakukan tindakan arogan, maka ditakutkan masalah serupa akan terulang kembali, kita mungkin bisa saja berdalih bahwa kita melakukan semua hal itu demi kebaikan sang murid, tapi faktanya justru hal tersebut tidak membuat kita (Guru) kebal terhadap hukum.

Semoga saja kedepannya sistem pendidikan di Indonesia bisa lebih maju dan lebih baik lagi