Senyum Semangat Eko

eko

Senyum Semangat Eko - Inspirasi Pagi kali ini datang dari seorang anak yang sangat luar biasa, dia bernama Eko. Eko adalah anak dari keluarga Bapak Dahlan yang tinggal di Desa Margacinta Pangandaran. Eko terlahir dengan keadaan yang sangat memprihatinkan, awalnya Eko terlahir normal namun ketika dia berusia 4 bulan Eko yang kala itu adalah seorang bayi kecil mengalami demam dan kejang – kejang yang aneh hingga membuatnya menderita penyakit yang saya sendiri kurang tahu apa nama dari penyakit tersebut. 

Kesedihan Eko bertambah kembali ketika ia berumur kurang lebih tujuh tahun, dia harus kehilangan ibu tercinta yang selalu setia mengurusnya. Dahlan sudah mengupayakan berbagai cara agar anakanya bisa sembuh namun apa daya, dia hanyalah seorang tukang becak yang berpenghasilan minim sehingga dia tidak bisa mengupayakan kesembuhan anaknya secara maksimal. Eko sekarang sudah berusia 23 tahun dan tubuhnya hanya bisa terbaring lemah tak berdaya diatas kasur, semua kebutuhannya seperti, makan, mandi dan buang air harus diurusi oleh ayahnya. 

Baca juga : Obay Sang Penakluk Ombak Pantai Batukaras



Nyaris tidak terlihat kesedihan yang dia tampakan saat kami berkunjung kerumahnya padahal 23 tahun lamanya eko tidak bisa menikmati kehidupan normal seperti orang lain. Sebenarnya Eko punya harapan bisa sembuh dan normal seperti anak – anak remaja lain seusianya, minimalnya dia bisa mengurusi keperluannya sendiri tanpa harus merepotkan ayahnya tapi kini Eko sudah pasrah, dia sadar bahwa Tuhan punya rencana lain untuknya. Dia selalu tersenyum dan menjawab pertanyaan yang kami berikan dengan penuh semangat.



Eko adalah salah satu anak yang patut kita jadikan contoh supaya bisa lebih bersyukur dengan nikmat yang telah Tuhan berikan, kita yang masih punya tubuh normal dan sehat ini terkadang selalu saja mengeluh, kita yang sudah diberikan sehat selama bertahun – tahun ini masih tetap saja mengeluarkan keluhan. Anda bisa bayangkan selama 23 tahun dia tidak bisa menikmati hidup secara normal bahkan hanya untuk makan saja dia butuh bantuan orang lain. Eko sudah ikhlas dengan semua ini meskipun dia masih berharap Tuhan turunkan keajaiban untuknya.