Hiruk Pikuk Pesantren Da'watul Falah Cijulang Ditengah Modernnya Zaman

Hiruk Pikuk Pesantren Da'watul Falah Cijulang Ditengah Modernnya Zaman

 

Disaat senja datang, dimana kebanyakan orang berkelerian mencari keramain, mencari kesenangan duniawi di berbagai sudut kota Pangandaran, justru pemandangan jauh berbeda Saya temukan disebuah Pesantren yang memiliki nama Da’watul Falah di Dsn Bugel RT 01/02 Ds. Kertayasa, Cijulang, Kabupaten Pangandaran , Propinsi Jawa Barat. Disini tidak terlihat anak muda/i yang sedang asyik berselfi atau memegang gagdet, tidak ada keramaian suara – suara musik, atau suara – suara kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Disini hanya terdengar suara gemercik air sungai dan sayup – sayup suara pemuda yang sedang membaca Al- Qur’an di sudut – sudut mesjid.

Akses jalan menuju Pesantren Da'watul Falah Cijulang lumayan bagus, tapi hanya sebagian, sebagainya lagi rusak, namun semua itu  sama sekali tidak ada hubungannya dengan banyak atau sedikitnya santri yang ada di Pesantren tersebut. Stigma bahwa pesantren itu adalah suatu tempat yang sangat membosankan, tidak modern atau kekinian mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa para pemuda lebih senang menghabiskan waktunya dijalan – jalan ketimbang belajar tentang agama meskipun itu hanya satu jam saja.

Hanya ada sekitar 15 pemuda yang belajar di pondok ini, rata mereka (santri) berusia 22 – 25 tahun, kata temanku dulu ada sekitar 100 lebih santri yang belajar di pesantren Da’watul Fallah. Tapi sekarang hanya tinggal sedikit “Mungkin karena pesantren itu tidak Modern” ujar temanku sambil tersenyum.

Para santri disini belajar setiap hari, bahkan ketika Ramdhan seperti saat ini, mereka masih tetap belajar, siang dan ketika senja menghilang, setelah tarawih sampai pukul 10 malam, dua guru silih bergantian mengajar kitab. Terdengar gelak tawa dari para santri yang sedang belajar, karena rata – rata gurunya memang orangnya humoris. Saat belajar bersama ada tabir penghalang antara santri putri dan putra, tabir itu tentu saja untuk membuat para santri lebih fokus saat belajar. Yah mungkin ini adalah salah satu implementasi dari salah satu ayat yang terdapat di Al- Qur’an bahwasanya kita harus bisa menjaga kemaluan/pandangan, maka tak heran saat belajar ada tabir penghalang antara santri putri dan putra.

Sebagai seorang Pemuda tentu memiliki hawa nafsu duniawi yang sangat besar, apalagi ditambah dengan perkembangan dan kemajuan teknologi dijamam modern seperti sekarang ini, tentu ini akan menjadi tantangan dan cobaan terbesar bagi para Pemuda akhir zaman, dan faktanya bisa kita saksikan sendiri saat ini, dimana dirumah – rumah orang muslim lebih banyak terdengar suara dari televisi dibandingkan suara orang mengaji.

Zaman memang tak bisa dipersalahkan, kemajuan dan perkembangan teknologi juga memiliki sisi baik yang telah membantu ribuan umat manusia dalam memenuhi berbagai kebutuhannya. Idealnya kita sebagai seorang muslim dan saudara seiman agar selalu saling mengingatkan dan mengajak dalam kebaikan, jika jauh saling mendo’akan dan jika berdekatan saling mengunjungi, mengingatkan kembali tentang pentingnya menuntut ilmu agar bisa menjadi jalan terang dalam kegelapan.   

 

Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”(HR. Ibnu Abdil Bari)

SHARE THIS