Kabupaten Pangandaran dan Hari Aids Sedunia



Kabupaten Pangandaran dan Hari Aids Sedunia
Sekretaris Daerah Kabupaten Pangandaran Mahmud SH.,MH mengahadiri acara Peringatan Hari AIDS Sedunia (ORASI) di Bunderan Marlin Kabupaten Pangandaran. Jumat,(08/12/2017). Foto Humas Kab. Pangandaran


Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai Program-program untuk Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itu, ia mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia.@wikipedia
Pangandaranlife.com, Sudah banyak sekali karya tulis yang membahas tentang bahaya dari penyakit HIV/Aids, penyakit yang sampai ini belum ditemukan obatnya, penyakit yang datangnya tidak disadari oleh orang yang menderitanya, karena penyakit ini memang tidak menyerang secara langsung, namun secara perlahan – lahan dengan cara melumpuhkan daya tahan tumbuh si penderita Aids.

HIV/AIDS merupakan salah satu tanggung jawab seluruh masyarakat, bukan hanya masyarakat Indonesia, tapi sudah menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat Dunia. Semua ini tentu didasari bukan hanya karena melihat masalah yang ditimbulkan oleh penyakitnya itu,  namun juga karena para penderita HIV/AIDS yang sering dikucilkan dari pergaulan karena banyak masyarakat yang salah memahami soal penyakit/penderita HIV/AIDS, seperti takut tertular karena bersinggungan, duduk bersama dan lain – lain, padahal hal tersebut sama sekali tidak benar. Hal tersebut tentunya akan menjadi tanggung jawab kita semua, karena mereka (penderita AIDS) tetap perlu didukung supaya tetap bisa menjalani hidup secara normal didalam kehidupan bermsayarkat, apalagi diantara mereka (penderita AIDS) sebenarnya bukan tertular akibat perilaku melanggar norma ( seperti seks bebas diluar nikah), namun ada juga yang tertular dari orang tuanya yang menderita AIDS, dan oleh karena itu khususnya dalam hal ini Pemerintah perlu terus melakukan sosialisasi, membimbing, membina dan memberi pengetahuan kepada seluruh masyarakatnya tentang HIV/AIDS.

Sebagai salah satu kabupaten baru yang bercita – cita untuk menjadi salah satu destinasi wisata yang mendunia, tentu Pemkab Pangandaran merasa perlu dan ikut melibatkan dirinya dalam permasalahan yang dihadapi Dunia saat ini khususnya dalam menghadapi permasalahan tentang penyakit HIV/AIDS. Apalagi kita ketahui bersama dan sudah menjadi rahasiah umum bahwasanya Kabupaten Pangandaran memiliki beberapa tempat prostitusi yang sampai saat ini masih aktif beroperasi

Ada banyak bentuk kontribusi atau upaya Pemkab Pangandaran dalam menghadapi masalah HIV/AIDS seperti dengan melakukan pemeriksaan HIV/AIDS terhadap masyarakatnya, melakukan sosialisasi tentang HIV/AIDS dsb. Namun upaya tersebut seperti seolah berbenturan dengan keadaan lainnya, seperti ada kontradiksi, apalagi jika melihat kenyataan bahwasanya tempat prostitusi di Kabupaten Pangandaran tumbuh subur dan berkembang bersama mendunianya wisata di Kab. Pangandaran

Tidak ada yang bisa menjamin kalau tempat prostitusi yang terdapat di Kab. Pangandaran bukan salah satu dari penyumbang  penyakit berbahaya HIV/AIDS. Bahkan menurut data yang dikutip dari https://news.okezone.com/read/2017/07/28/525/1745826/innalillahi-4-penderita-hiv-aids-di-pangandaran-meninggal-dunia (syamsul ma'arif) , dikatakan bahwsanya penderita HIV/AIDS di Kabupaten Pangandaran ada sekitar 44 orang dan 4 orang diantaranya telah meninggal dunia.  Hal ini tentunya perlu menjadi salah satu bentuk keprihatin kita semua sebagai warga masyarakat kabupaten Pangandaran ditengah - tengah euporia untuk mewujudkan mimpi menjadi salah satu destinasi wisata yang mendunia.

Masalah HIV/AIDS tentu merupakan tanggung jawab kita semua, namun dalam hal ini Pemerintah yang memiliki kekuatan dan otoritas yang perlu memulainya, perlu ada tindakan konkrit khususnya dalam mengatasi masalah HIV/AIDS yang ada disuatu daerah sehingga diharapkan mampu menyelesaikan masalah yang ada secara perlahan.

Pembinaan dan sosialisasi mungkin tidak akan mampu secara maksimal mengatasi permasalahan yang ada terutama jika yang menjadi sumber / salah penyumbang masalah tidak diamankan secara baik. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama, maka Saya selaku penulis memiliki beberapa gagasan / ide untuk mengatasi permasalahan ini, diantaranya :
  1. Memberikan pembinaan dan pelatihan keahlian bagi para pelaku prostitusi
    Saya meyakini bahwasanya tidak ada wanita yang ingin menjadi pekerja seks (psk), mereka tentu ingin bisa hidup dan bekerja secara normal seperti manusia lainnya. Kalau saja mereka diberi keahlian tertentu yang dapat menghasilkan dan bermanfaat bagi masyarakat maka Saya berpikir mereka tidak akan lagi terjun kedalam dunia prostitusi

    Kehalian itu mungkin bisa menjahit, memotong rambut, atau mungkin bisa juga diberikan kehalian dalam bidang IT, seperti misal Digital Printing, Multimedia/Percetakan, Programming, Web Development atau hal lainnya yang sekiranya dibutuhkan oleh masyarakat. Saya yakin bahwa mereka pasti memiliki kemampuan untuk bekerja secara halal dan hidup secara normal

    Ide atau Gagasan ini mungkin tidak akan mudah untuk diimplementasikan terutama jika tidak ada komitmen serta keperdulian dari pihak – pihak yang merasa bertanggung jawab dalam mengatasi permasalahan ini.
  2. Mengubah Kawasan Prostitusi Menjadi Kawasan Industri Positif
    Tempat Prostitusi itu seperti situs porno di internet, sangat sulit diberantas, ketika telah berhasil dihilangkan mereka mungkin akan berganti nama atau menggunakan model lain. Permasalahan ini sebenarnya bukan hanya berlaku di Pangandaran saja, tapi juga dikota – kota besar  yang memiliki tempat prostitusi juga demikian, sehingga mungkin akan sulit jika kita ingin membongkar/menertibkan tempat prostitusi.

    Terlintas dalam pikiran Saya, bahwa kalau tidak bisa ditertibkan, mungkin kawasan prostitusi bisa dialihkan menjadi kawasan industri positif. Misalnya para psk yang telah sebelumnya telah diberikan keahlian dipekerjakan di kawasan industri positif tersebut, yang dimaksud dengan kawasan industri positif itu seperti misal konveksi atau tempat jahit yang memproduksi baju – baju yang nantinya mungkin bisa dibeli lagi oleh Pemerintah atau Masyarakat pada umumnya.
  3. Tetap Memberikan Sosialisasi Kepada Para Pelaku Prostitusi
    Sebenarnya saya tidak suka cara ketiga ini karena akan berbenturan dengan poin kesatu dan kedua, tapi seandainya sangat sulit bagi Pemerintah untuk melakukan kedua hal diatas, maka cara selanjutnya adalah dengan tetap memberikan pembinaan atau pemahaman terhadap para pelaku prostitusi tentang penyakit menular seks (PMS). Sederhananya memberikan pengarahan kepada mereka agar selalu tetap aman pada saat berhubungan seperti dengan cara menggunakan kondom atau pengaman jenis lainnya.
    Mungkin cara ini sama sekali tidak akan bisa memperbaiki moral masyarakat, tapi minimalnya bisa sedikit membantu mengurangi terjadinya penyebaran penyakit menular seperti HIV/AIDS.

Untuk mewujudkan semua ini memang tidak semudah seperti menulis kata- kata dalam tulisan ini, tapi setidaknya lebih baik dari pada mencaci atau mencibir tanpa memberikan solusi. Jika ada komitmen bersama, tekad yang kuat, serta lurusnya niat maka pasti semuanya akan berjalan dengan mudah, sehingga tujuan untuk untuk menyelesaikan masalah dapat tercapai dengan baik tanpa memunculkan polemik lain dimasyarakat.

HIV/AIDS merupakan tanggungjawab kita bersama – sama, maka dari itu marilah kita bersama – sama ikut berkontribusi dan berperan secara positif dalam menyikapi permasalahan tersebut.


“Sehat warganya, maju generasinya”